Membangun Karakter melalui Bahasa Jawa

Pendidikan karakter telah menjadi isu sentral dalam dunia pendidikan di Indonesia. Secara legal formal, payung hukum tentang pendidikan karakter adalah UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 (Pasal 3) dan Permendiknas No. 39 tahun 2008. Bahkan, pemerintah Jokowi memasukkan pentingnya pendidikan karakter dalam Agenda Nawacita (No. 8) dan RPJMN 2015-2019.

Menyambut sejumlah kebijakan tersebut, Gubernur Jatim-pun telah mengeluarkan Pergub No. 19 tahun 2014. Peraturan yang disahkan pada tanggal 3 April 2014 terse

but mengatur tentang integrasi mapel bahasa daerah sebagai muatan lokal wajib. Poin pentingnya adalah kewajiban sekolah atau madrasah untuk memasukkan bahasa daerah (termasuk bahasa Jawa) sebagai muatan lokal wajib. Pergub ini dimaksudkan untuk menjadi wahana untuk menanamkan nilai pendidikan etika, estetika, moral, spiritual, dan karakter bercirikan kearifan lokal.

Mencermati fakta yang demikian, STKIP PGRI Ponorogo sebagai salah satu LPTK (Lembaga Pendidikan dan Tenaga Pendidikan) memandang perlu untuk mendukung sejumlah kebijakan pemerintah tersebut. Salah satu bentuk riilnya adalah menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk ‘Membangun karakter bangsa melalui bahasa Jawa’. Acara digelar pada Kamis, 14 September 2017 di Graha Saraswati.

Acara seminar kali ini dihadiri sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan, termasuk guru, praktisi, budayawan, mahasiswa, dan dosen. Menurut ketua panitia, yang sekaligus Kaprodi Pendidikan Bahasa Jawa, Ithafur Rahman, M.Hum. seminar nasional ini merupakan upaya nyata dalam penguatan pendidikan karakter dalam pendid

ikan nasional. Lebih lanjut, alumni UNDIP jurusan sastra Jawa ini juga menyatakan keprihatinannya atas pengamatannya tentang fakta ‘Wong Jawa nanging ora nJawani’. Istilah ini ditujukan bagi orang Jawa yang meninggalkan akar budaya aslinya, temasuk bahasa Jawa. Hal inilah yang menjadi salah satu dasar penyelenggaraan seminar. Lebih lanjut, seminar kali ini juga diselenggarakan dalam rangka launching Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa di Kampus Literasi.

Seminar nasional sehari yang diselenggarakan Prodi Pendidikan Bahasa Jawa tersebut dibuka secara langsung oleh Ketua STKIP PGRI Ponorogo, Dr. Kasnadi, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyoroti kebiasaan generasi muda

yang malu menggunakan bahasa Jawa. Hal ini dicontohkan melalui unggahan maupun komentar di media sosial. Semakin sedikit pengguna medsos yang menggunakan bahasa Jawa. Selanjutnya, acara dimeriahkan dengan penampilan tari tradisional dari UKM Tari STKIP PGRI Ponorogo.

Hadir sebagai narasumber sastrawan kondang Jawa, Jayus Pete dari Bojonegoro dan akademisi sekaligus praktisi Widodo Wikandana, M.Hum., dari UNNES. Dalam sesi paparan, Jayus Pete, mengupas pentingnya bahasa Jawa dari perspektif seorang sastrawan. Dalam presentasinya, ia mengutip pernyataan seorang peneliti bahasa Jawa dari Australia, Harry Aveling, yang menyatakan bahwa bahasa Jawa adalah bahasa terlengkap di dunia. Hal ini didasarkan pada banyaknya jenis dan kelas kata menurut unggah-ungguh-nya.

Sementara narasumber kedua, memaparkan korelasi kuat antara bahasa Jawa dan pendidikan karakter. Dimana Bahasa Jawa adalah satu-satunya bahasa yang merepresentasikaan keluhurun budi penuturnya. Hal ini didasarkan pada kajian dan temuan empirisnya selama lebih dari 15 tahun aktif menjadi akademisi. Andri, seorang peserta dari kalangan guru menyatakan bahwa kombinasi perspektif tersebut telah memperluas cakrawala wawasannya tentang bahasa Jawa. Diapun semakin yakin bahwa bahasa Jawa adalah media yang tepat dalam membangun karakter peserta didiknya.

Ditemui di sela-sela acara, Ketua STKIP PGRI Ponorogo menyatakan bahwa kampusnya merupakan satu-satunya PTS di Jatim yang dipercaya mengelola Prodi Pendidikan Bahasa Jawa. Hal ini sesuai dengan SK yang ditandatangani oleh Sekjen Kemenristek Dikti dengan nomor 352/KPT/I/2017 tanggal 13 Juni 2017. Sehingga calon mahasiswa tidak perlu ragu untuk bergabung dengan prodi Pendidikan Bahasa Jawa.

Ia menambahkan, saat ini kebutuhan guru Bahasa Jawa di Jatim mencapai lebih dari 4.000 orang. Sedangkan kompetensi guru aktif bahasa Jawa yang mengajar di SMP dan SMA se-Jatim sebagian besar bukan dari disiplin ilmu yang sesuai. Hal ini merupakan peluang yang sangat terbuka bagi para lulusan Pendidikan Bahasa Jawa. “Pendidikan bahasa Jawa adalah pilihan yang tepat untuk melanjutkan studi”, imbuhnya.

 

By: Adip Arifin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *