Pagelaran Teater: Dari Sindiran Kondisi Negeri Hingga Kisah Cinta yang Pelik

Mahasiswa PBSI Angkatan 2023 sukses memukau penonton lewat pagelaran teater bertajuk fragmen jiwa sebuah negeri. Ruang 101-102 disulap menjadi panggung teater dengan nuansa hitam dan dipadukan lighting yang menawan. Pagelaran drama ini merupakan luaran mata kuliah dengan dosen pembimbing Dr. Suprapto, M.P., (Senin, 12/26).
Dalam sambutannya, pihaknya memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang bekerja keras untuk mewujudkan gelaran drama tersebut. Tidak hanya itu, Dr. Suprapto, M.Pd. berharap selesai pertunjukkan drama, mahasiswa mampu memetik nilai-nilai dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui drama kita belajar tidak saja menjadi diri sendiri, tetapi menjadi orang lain. Nanti akan mampu menunjukkan rasa empati dan simpati,” tuturnya.
Sementara, ketua program studi PBSI Cutiana Windri Astuti, M.Pd. juga mengapresiasi perjuangan mahasiswa untuk sampai titik pagelaran teater. “Saya yakin, banyak yang sudah dikeluarkan mulai waktu, pikiran, tenaga, dan curahan kreativitas,” pungkasnya.

Pagelaran ini menjadi salah satu program kerja program studi PBSI yang dilaksanakan setiap semester. Program ini juga menjadi nilai tambah bagi mahasiswa dalam pengembangan kreativitas dan kemampuan diri, tutur Cutiana Windri Astuti, M.Pd.
Drama dimulai dari penampilan teater bertajuk teatrikal puisi “Negeriku” karya Mustofa Bisri yang dibawakan oleh mahasiswa PBSI Angkatan 2023 C. Teatrikal ini menampilkan bagaimana praktik korupsi, ketidakadilan, dan praktik kotor lain yang dilakukan oleh penguasa. Rakyat pada akhirnya yang menanggung seluruh penderitaan tersebut.
Penampilan kedua tidak kalah memukau. Bertajuk pasung jiwa, drama ini menyajikan persoalan pelik tentang percintaan. Bermula dari pasangan kekasih yang berniat untuk menyatukan jalinan kasih dalam pernikahan, namun ditolak karena persoalan ekonomi dan hitungan Jawa. Karena cinta begitu mendalam Asih dan Joko memberanikan diri untuk menikah tanpa sepengetahuan keluarga.
Kenekatan ini justru menjadi petaka Asih, Ia dimusuhi oleh keluarganya dan Joko dibunuh oleh anak pak lurah. Akhir cerita, Asih dipasung karena kelakuannya yang nekat tersebut.

Menurut Kurnia Hayunastiti, Fauzzia Mey Dhini, Givara Fayza Putri Azahro, Aprolia, selaku pemain dan sutradara. Inspirasi cerita Pasung Jiwa muncul dari realitas sosial masyarakat Jawa yang masih memegang teguh tradisi, khususnya kepercayaan adat siji karo telu (jilu). Tradisi ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga cerita sekaligus pesan yang ditangkap mudah dipahami.
“Tema tersebut menarik karena menggambarkan pertentangan antara kehendak pribadi, harapan, dan takdir yang dipercaya sudah digariskan oleh adat. Selain itu, naskah ini terinspirasi dari kisah pribadi penulis,” ungkapnya mewakili mahasiswa PBSI angkatan 2023 A.
Sebagai penutup, Penampilan teater berjudul Netepi Dharmaning Warok dari mahasiswa PBSI angkatan 2023 B. Drama tersebut tidak kalah memukai penonton yang dari awal hingga akhir tetap standby. Menariknya, penonton tidak hanya dari program studi PBSI, tetapi dari berbagai Prodi di STKIP PGRI Ponorogo.

Menurut Ratih Rudya Santoso selaku sutradara, Netepi Dharmaning Warok mengisahkan tragedi pengkhianatan dan adu domba di tanah Ponorogo yang dipicu oleh rasa dendam Ki Suro terhadap Ki Sumo, sang Lurah sekaligus sahabat lamanya yang dianggap ingkar janji.
“Drama berakhir dengan penyesalan mendalam Ki Wilogo yang kemudian membalaskan dendam kepada Belanda dan mengabdikan nama adiknya sebagai asal-usul Desa Sumorejo sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan sang warok,” tuturnya dihubungi tim humas.
Red/Ags_Humas


