Hanin dan Kesempatan Kedua yang Tidak Ia Sia-siakan: Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo itu Terpilih sebagai Google Student Ambassador 2026

Dari kegagalan di Batch 1, mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Ponorogo ini menembus 2.000 terpilih dari 85.000 pendaftar Google Student Ambassador.
PONOROGO – Pada percobaan pertama, Hanin Naimatus Sa’adah belum berhasil. Ia mendaftar sebagai Google Student Ambassador (GSA) Batch 1, melewati tahapan seleksinya, lalu harus menerima kenyataan bahwa namanya belum terpilih.
Banyak orang mungkin berhenti di titik itu. Hanin memilih sebaliknya. “Dari pengalaman tersebut, saya belajar banyak dan kembali mencoba pada Batch 2 dengan persiapan yang lebih baik,” tuturnya.
Keputusan itu terbayar. Mahasiswi semester 6 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Ponorogo ini dinyatakan lolos sebagai satu dari sekitar 2.000 mahasiswa GSA Batch 2. Jumlah itu terpilih dari sekitar 85.000 pendaftar yang berasal dari berbagai universitas di Indonesia.
Perkenalan Hanin dengan program ini tidak rumit. Ia mengetahuinya lewat Instagram, lalu memutuskan mendaftar. Namun, prosesnya jauh dari sederhana. Ia harus melewati registrasi, menyusun CV dan portofolio, menjalani wawancara, hingga membuat konten sebagai bagian dari penilaian.
Tahap terakhir itulah yang meninggalkan kesan paling dalam. Salah satu konten tentang teknologi AI dan Google yang ia buat untuk seleksi mendapat respons sangat baik dari audiens dan mencapai sekitar 1,8 juta penayangan di Instagram.
“Pengalaman tersebut semakin membuat saya tertarik untuk menggunakan kemampuan membuat konten sebagai salah satu media untuk berbagi edukasi mengenai teknologi,” ujarnya.
Hari-hari yang padat dilalui Hanin selama mengikuti proses seleksi. Menjadi GSA bukan satu-satunya kesibukan Hanin. Ia aktif dalam perkuliahan, organisasi di dalam dan luar kampus, serta berbagai kegiatan pengembangan diri. Di sela semua itu, ia juga mengajar les Bahasa Inggris secara privat.
Dengan jadwal sepadat itu, ia mengaku harus pandai menyusun prioritas. Tugas akademik tetap ia letakkan di urutan teratas, disusul organisasi, mengajar, dan tanggung jawab sebagai ambassador. Untuk menjaga pekerjaan tidak menumpuk, ia membuat daftar tugas dan memecahnya menjadi bagian-bagian kecil agar bisa diselesaikan bertahap.
Tantangan itu, katanya, justru menjadi bahan belajar. Ia memandangnya sebagai kesempatan untuk melatih pengaturan prioritas, komunikasi, dan cara kerja yang lebih terstruktur.
Google Student Ambassador adalah program yang membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menjadi bagian dari komunitas Google di lingkungan kampus. Para ambassador bertugas mengenalkan dan membantu sesama mahasiswa memanfaatkan teknologi serta berbagai tools Google secara lebih optimal, terutama untuk pembelajaran, produktivitas, dan pengembangan diri.
Saat ini Hanin masih berada di tahap awal. Ia sedang mengikuti masa orientasi dan pelatihan dari Google, sehingga belum menggelar kegiatan resmi sebagai ambassador. Meski begitu, gambaran program yang ingin ia jalankan sudah jelas. Ia ingin membuat kegiatan dan konten edukatif tentang tools Google serta pemanfaatan AI secara bijak untuk kebutuhan akademik.
Pendekatannya ingin ia buat sederhana dan dekat dengan keseharian mahasiswa, mulai dari konten media sosial, sharing session, dan tutorial singkat, hingga praktik langsung. Ia ingin menunjukkan contoh yang relevan, misalnya membantu mencari ide, mengorganisasi informasi, membuat materi belajar, dan berkolaborasi. “Jadi, mahasiswa tidak hanya mengetahui fitur yang tersedia, tetapi juga memahami manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dari proses seleksi hingga awal bergabung, Hanin merasa kemampuan komunikasi, pembuatan konten, dan pemanfaatan teknologinya ikut berkembang. Ia juga menyadari bahwa menjadi ambassador bukan sekadar mengenal produk atau teknologi. “Tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan informasi tersebut dengan cara yang relevan, menarik, dan bermanfaat bagi orang lain,” katanya.
Bagi Hanin, kehadiran GSA di kampus punya manfaat langsung. Mahasiswa bisa memperoleh informasi dan pengalaman tentang tools Google dari sesama mahasiswa yang memahami kebutuhan dan tantangan di lingkungan kampus. Dengan begitu, teknologi tidak berhenti sebagai barang yang dipakai sehari-hari, tetapi dimanfaatkan lebih optimal dan bertanggung jawab.
“Saya berharap kehadiran saya sebagai GSA dapat menjadi jembatan agar mahasiswa lebih mengenal berbagai teknologi yang dapat membantu mereka dalam kegiatan akademik maupun kehidupan sehari-hari.”
Karena pernah merasakan gagal, Hanin punya pesan khusus bagi mahasiswa yang berniat mendaftar program serupa. “Jangan takut mencoba hanya karena merasa belum cukup hebat atau belum memiliki banyak pengalaman,” ujarnya.
Baginya, yang terpenting adalah berani mencoba, mau belajar, dan terus memperbaiki diri. Hasil akhir bukan satu-satunya yang berharga. “Kesempatan seperti ini bukan hanya tentang berhasil lolos, tetapi juga tentang proses, pengalaman, dan kemampuan baru yang kita dapatkan selama menjalaninya,” katanya.
Kegagalan pertama, bagi Hanin, tidak menjadi akhir. Kegagalan itu menjadi pengingat bahwa tidak berhenti mencoba adalah jalan menuju kesempatan berikutnya. (Red_Yun/Humas)




