Webinar Nasional PBSI Ponorogo: Intip Cara Asyik Analisis Bahasa Raksasa di Era Digital

PONOROGO – Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-50 yang mengusung tema “Golden Journey, 50 Tahun Merawat Nyala”, Himpunan Mahasiswa Aksara Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) STKIP PGRI Ponorogo sukses menyelenggarakan Webinar Nasional pada Sabtu (30/5/2026).
Webinar yang bertajuk “Digitalisasi Bahasa dan Sastra” ini digelar sebagai upaya nyata dalam memperkuat wawasan akademik mahasiswa serta dosen mengenai perkembangan bahasa dan sastra di era digital. Acara ini dihadiri oleh sekitar 350 peserta dari kalangan dosen dan seluruh mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo.
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Prodi PBSI, Cutiana Windri Astuti, M.Pd., dan secara resmi dibuka oleh Ketua STKIP PGRI Ponorogo, Dr. Ahmad Nur Ismail, M.Pd. Jalannya webinar dipandu oleh Rita Ristiani, M.Pd. selaku Master of Ceremony (MC) dan dimoderatori oleh Lusy Novitasari, M.Pd.

Webinar nasional ini menghadirkan dua pakar sebagai pembicara utama yang membedah digitalisasi dari sudut pandang linguistik dan penciptaan sastra.
Pembicara pertama, Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd., dosen Pendidikan Bahasa Indonesia dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), memaparkan materi mengenai penelitian linguistik berbasis korpus. Pendekatan empiris ini memungkinkan pengkajian bahasa dalam skala besar melalui bantuan digital.
“Penting bagi mahasiswa di era digitalisasi ini untuk bisa menganalisis data bahasa yang otentik (nyata), yang melibatkan gaya digitalisasi di zaman modern ini,” ujar Dr. Memet.
Sementara itu, Sapta Arif W, M.Pd., dosen STKIP PGRI Ponorogo selaku pembicara kedua, membawakan materi seputar cipta sastra dengan memanfaatkan platform digital. Ia menyoroti fenomena mahasiswa saat ini yang rentan terbawa arus teknologi Artificial Intelligence (AI). Sapta mengingatkan agar mahasiswa tetap mengedepankan kemampuan berpikir kritis ketimbang sekadar mengandalkan teknologi.

“Teknologi AI bukan sekadar alat untuk mencari informasi, tetapi wawasan pemantik kita agar lebih bisa berpikir kritis. Jadi, mahasiswa harus melek dalam berpikir, bukan hanya menelan informasi dari teknologi AI, tetapi juga bisa menciptakan gagasannya sendiri,” tegas Sapta.
Melalui webinar ini, diharapkan civitas akademika STKIP PGRI Ponorogo tidak hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan mampu mengambil peran aktif dan kritis dalam merawat nyala literasi di era digital.
Pewarta:
An Nisa Dwi Nur Rohmah – Mahasiswi PBSI B 2024
Viantika Navisa – Mahasiswi PBSI A 2025




