Rawat Kearifan Lokal, Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo Gelar Pentas Ketoprak hingga Teater Puisi

PONOROGO – Selasa pagi (14/7), nuansa kebudayaan dan seni pertunjukan terasa begitu kental memenuhi lingkungan STKIP PGRI Ponorogo. Kampus yang dikenal berkomitmen tinggi dalam merawat kearifan lokal ini sukses menyelenggarakan pagelaran seni terpadu.
Mengawali rangkaian kegiatan, panggung pagelaran dibuka dengan suguhan hiburan musik akustik dari mahasiswa Pendidikan Bahasa Jawa yang tergabung dalam HIMA Diwangkara. Penampilan harmonis tersebut sukses membangun suasana hangat dan semangat bagi seluruh hadirin sebelum acara formal dimulai.
Acara dibuka dengan sambutan pertama oleh Wakil Ketua STKIP PGRI Ponorogo, Bapak Heru Setiawan, M.Pd. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan apresiasi serta terima kasih yang mendalam kepada seluruh jajaran panitia yang telah bekerja keras menyelenggarakan pagelaran seni dan ketoprak ini. Beliau menegaskan pentingnya dokumentasi karya akademis bernilai seni tinggi ini di lingkungan kampus.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia karena telah menyelenggarakan pagelaran ketoprak ini. Harapan kami ke depannya naskah pertunjukan ketoprak ini bisa diarsipkan secara resmi untuk keperluan pemenuhan akreditasi. Semoga melalui kegiatan di luar mata kuliah ini, mahasiswa bisa mendapatkan wadah serta sarana pencapaian prestasi sekaligus mengasah kompetensi diri,” tuturnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa (PBJ), Dr. Suprapto, M.Pd., dalam sambutan berikutnya turut menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh dosen yang telah memberikan dukungan penuh hingga acara ini dapat terselenggara dengan megah. Beliau menekankan bahwa seni pertunjukan drama memiliki esensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar tontonan hiburan.
“Terima kasih kepada para bapak ibu dosen yang sudah mendukung penuh kegiatan ini hingga bisa terselenggara. Pertunjukan drama ini tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi bagaimana kita belajar menjadi manusia seutuhnya belajar dari empati dan nilai kehidupan tokoh yang diperankan. STKIP PGRI Ponorogo merupakan wadah yang tepat untuk menyalurkan bakat tersebut agar setelah lulus nanti mahasiswa memiliki kesiapan diri yang matang,” ungkapnya.

Setelah penyampaian sambutan selesai, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama secara khidmat yang menandai dibukanya seluruh rangkaian acara inti secara resmi. Panggung utama kemudian diambil alih oleh runtutan penampilan spektakuler dari para mahasiswa.
Acara dilanjutkan dengan penampilan drama monolog dari mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) angkatan 2023. Mereka membawakan lakon berjudul “Badala Sumarah” karya Tentrem Lestari dengan penghayatan karakter yang sangat memukau. Tidak berhenti di situ, panggung seni semakin dramatis melalui penampilan teater puisi bertajuk “Kemul Legam Sulastri” karya Dhini dan Kurnia yang dibawakan oleh mahasiswa PBSI angkatan 2023.

Sebagai puncak acara yang dinanti-nantikan, mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Jawa (PBJ) angkatan 2023 mempersembahkan pagelaran ketoprak dengan lakon “Sumpah Ludira Simbok Ratu Kalinyamat” karya S. Sigit Prasojo. Lakon ini mengisahkan sumpah darah Ratu Kalinyamat yang tidak akan kembali ke istana sebelum bisa membasuh rambutnya dengan darah Arya Penangsang, pembunuh suaminya (Sunan Hadiri) di tengah pergolakan politik pasca-Demak. Meski sempat disusup dan dihina musuh saat bertapa di Gunung Danaraja, tekad sang Ratu akhirnya terwujud setelah Sultan Hadiwijaya dari Pajang menggelar sayembara, di mana pasukan Danang Sutawijaya berhasil menewaskan Arya Penangsang dalam pertempuran sengit di Bengawan Sore.
Penampilan ketoprak tersebut berhasil menutup gelaran seni hari itu dengan gemuruh tepuk tangan dari seluruh penonton. Rangkaian acara yang berjalan sukses ini membuktikan bahwa mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo tidak hanya unggul di bidang akademis, namun juga menjadi garda depan yang kreatif dalam merawat serta menghidupkan kembali akar seni budaya nusantara.
Pewarta: Darun Nafis ‘Aliyatul’ A’la dan Patrisia Putri Permatasari

