Gelisah dengan Tragedi Gaza hingga Myanmar, Mahasiswa STKIP Ponorogo Lahirkan Puisi Juara Nasional

PONOROGO – Prestasi membanggakan kembali diukir oleh mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo di kancah nasional. S. Sigit Prasojo, mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Jawa, sukses menyabet gelar Juara 1 Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional dalam ajang Creation Fest 2026. Kompetisi bergengsi ini diselenggarakan secara daring oleh UKM Permata Ilmu Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Lomba bertajuk Creation Fest 2026 mengusung tema besar “Peran Generasi Z dalam Mendorong Inovasi dan Keberlanjutan di Era Society 5.0” dengan menghadirkan dua kategori lomba, yaitu esai dan puisi.
Perjalanan Sigit menuju podium juara tidaklah mudah. Ia harus bersaing ketat dengan ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia. Rangkaian kompetisi yang digelar secara online juga berlangsung cukup panjang, dimulai dari pendaftaran Gelombang 1 pada 15–29 Mei 2026 dan Gelombang 2 pada 30 Mei–21 Juni 2026. Setelah melewati tahap penjurian yang ketat pada 22 Juni–5 Juli 2026. Pengumuman pemenang akhirnya dilaksanakan bersamaan dengan webinar nasional pada Senin, 13 Juli 2026.
Penilaian karya puisi dilakukan oleh dewan juri secara objektif yang menitikberatkan pada empat aspek utama yakni; orisinalitas karya, kesesuaian dengan tema, kekuatan pesan yang disampaikan, dan kualitas estetik puisi.

Menariknya, puisi berjudul “Burung Hitam dalam Mazmur Sunyi” yang mengantarkan S. Sigit Prasojo menjadi juara, awalnya bukan ditulis khusus untuk kompetisi ini. Karya tersebut merupakan karya lama yang sedianya dipersiapkan untuk ajang tingkat ASEAN, namun batal diikutsertakan.
“Ketika melihat tema Creation Fest 2026, saya merasa isi puisi ini masih sangat relevan. Puisi ini mengangkat isu kemanusiaan, perdamaian, dan kritik terhadap perang yang sejalan dengan semangat keberlanjutan sosial. Akhirnya saya putuskan untuk mengirimkannya setelah melakukan penyuntingan kecil,” ujar Sigit.
Sigit mengungkapkan bahwa puisi tersebut lahir dari kegelisahan mendalamnya melihat berbagai tragedi kemanusiaan global yang terjadi di berbagai belahan dunia.
“Karya ini terinspirasi dari konflik di Aleppo, Fallujah, Gaza, Sudan, hingga Myanmar. Saya banyak membaca laporan konflik internasional, lalu memilih burung pemakan bangkai sebagai simbol saksi yang selalu hadir setelah manusia saling menghancurkan. Melalui simbol itu, saya ingin menyampaikan bahwa yang paling mengerikan bukanlah burung pemakan bangkai, melainkan manusia yang menciptakan perang lalu membungkusnya dengan legitimasi kepentingan,” jelasnya secara mendalam.
Bagi Sigit, mengikuti kompetisi menulis sudah menjadi rutinitas untuk mengukur kualitas karya sekaligus menambah pengalaman. Di samping itu, motivasi terbesarnya adalah untuk membawa dan mengharumkan nama baik almamaternya, STKIP PGRI Ponorogo, di tingkat nasional.
“Alhamdulillah, tanpa menyangka, karya yang awalnya dipersiapkan untuk tingkat ASEAN justru berhasil meraih Juara 1 di Creation Fest 2026. Bagi saya, kemenangan ini menjadi bukti bahwa sebuah karya yang lahir dari proses yang sungguh-sungguh akan selalu menemukan panggungnya sendiri,” pungkas Sigit.
Ketua program studi Pendidikan Bahasa Jawa (PBJ) Dr. Suprapto, M.Pd., mengapresiasi prestasi yang ditorehkan S. Sigit Prasojo. Ia mengaku bersyukur dan bangga karena berhasil meraih juara 1 tingkat nasional. Terlebih harus bersaing ketat dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
“Bangga. Kalian telah membuktikan bahwa kata-kata bisa menjadi cahaya yang menginspirasi. Terus berkarya, terus mengharumkan nama PBJ dan STKIP PGRI Ponorogo,” pungkasnya kepada tim humas.



