Merajut Kekeluargaan dan Menyalakan Semangat Menulis dalam Welcome Party UKM Himpunan Mahasiswa Penulis STKIP PGRI Ponorogo 2026

“Penulis adalah Tuhan untuk tulisannya.”
Kalimat yang disampaikan oleh Masuki M. Astro, seorang redaktur senior LKBN Antara yang kerap disapa Pak Uki ini menjadi salah satu penggalan kalimat yang membekas dalam kegiatan Welcome Party anggota baru UKM Himpunan Mahasiwa Penulis (HMP) STKIP PGRI Ponorogo tahun 2026. Kutipan tersebut adalah pengingat bahwa di balik sebuah karya tulis, pasti mengandung keunikan gagasan, keleluasaan menyusun kata-kata dan pola kalimat, bahkan jika dalam tulisan fiksi, imajinasi liar penulis bebas dituangkan dalam karya-karyanya.
Pada Minggu, 27 September 2026, suasana santai sekaligus hangat menyelimuti kegiatan yang berlangsung di Sutejo Spectrum Center, Siman, Ponorogo. Anggota UKM HMP angkatan 2023, 2024, 2025, hingga anggota baru angkatan 2026 berkumpul bersama dalam agenda Welcome Party dan Bedah Buku. Meski beberapa peserta masih tampak malu-malu dan belum akrab, suasana tidak terasa begitu tegang. Kehangatan justru tumbuh melalui interaksi kecil antara anggota baru, anggota lama, dosen, maupun pemateri yang hadir.
Kegiatan diawali dengan sesi perkenalan yang dipandu oleh salah satu anggota HMP, Amran Abdul Fatah. Para anggota baru diminta menyebutkan nama, kelas, serta alasan bergabung ke HMP. Sebagian besar mengaku ingin mengembangkan keterampilan menulis, baik cerpen, puisi, karya tulis ilmiah, bahkan ada pula yang bercita-cita ingin menjadi seorang penulis.
Selepas sesi perkenalan, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Irvan Kurniawan selaku Ketua UKM HMP periode 2025/2026, Dr. H. Sutejo, M.Hum. selaku Pembina UKM HMP, Masuki M. Astro, Sapta Arif Nur Wahyudin, M.Pd., dan Arafat Nur. Kehadiran ketiga dosen STKIP PGRI Ponorogo bersama Masuki M. Astro memberikan warna tersendiri dalam kegiatan yang menjadi ruang pertemuan anggota HMP dengan pengalaman-pengalaman hebat di dunia kepenulisan.
Selain Welcome Party, ada satu agenda utama dalam pertemuan ini yaitu bedah buku “Tanah Hayat dan Cinta Martina” karya Sapta Arif Nur Wahyudin. Buku yang terbit pada Juli 2026 melalui penerbit JBS tersebut merupakan kumpulan 15 cerita pendek yang banyak mengangkat kisah kemanusiaan berlatar sejarah kelam Indonesia, yakni tragedi Pasca 1965. Cerita-cerita di dalamnya menyuguhkan beragam prespektif, mulai dari korban, keluarga korban, orang-orang yang dituduh memiliki keterkaitan dengan partai, hingga mereka yang terlibat sebagai Algojo. Ada pula bagian dari buku ini yang mengangkat pengalaman orang-orang eksil yang terdampak oleh situasi pada masa itu.
Dalam pemaparannya, Sapta Arif yang juga dosen STKIP PGRI Ponorogo menuturkan bahwa proses penulisan buku kumcer tersebut melibatkan research. Meski demikian, hasilnya tetap merupakan karya fiksi, sebab juga mengandung banyak imajinasi yang dibangun melalui proses kreatifnya. Ia juga mengungkapkan bahwa inspirasi menulis dapat datang dari berbagai hal yang didengar, dilihat, dan dibaca. Pengalaman kecil sehari-hari juga bisa saja menjadi pintu bagi terciptanya sebuah karya yang bermakna.

Di tengah pembahasan buku, muncul kisah personal yang membuat suasana menjadi lebih emosional. Pembina HMP, Sutejo, mengungkapkan bahwa Ia belum membaca Tanah Hayat dan Cinta Martina hingga akhir sebab teringat pada sosok guru yang selalu mendukungnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, ketika Ia masih di bangku SPG. Membaca buku tersebut membawa Ia kembali pada kenangan yang membuatnya terenyuh, dan belum sanggup melanjutkan bacaan. Kisah ini menunjukkan bagaimana karya sastra sebenarnya dapat bersinggungan dengan pengalaman hidup pembacanya.
Setelah pemaparan materi, sesi tanya jawab berlangsung dengan melibatkan peserta, di mana lima peserta yang mengajukan pertanyaan akan mendapatkan hadiah buku “Tanah Hayat dan Cinta Martina.” Namun ada satu momen menarik ketika Lutfi, anggota baru sakaligus sebagai peserta terakhir yang ditunjuk untuk bertanya justru tidak memiliki pertanyaan. Sutejo kemudian memintanya menceritakan alasan bergabung dengan HMP. Lutfi mengaku bahwa dirinya bergabung karena mengikuti tren teman-temannya atau fear of missing out (FOMO). Menanggapi hal tersebut, Sapta menyebutnya sebagai “FOMO di jalan yang benar” sebab mengarah pada hal yang positif. Tanggapan itu sontak mengundang tawa peserta dan membuat suasana yang semula berfokus pada diskusi menjadi lebih cair dan enjoy.
Pada kesempatan yang sama, Arafat turut membagikan pandangannya mengenai dunia kepenulisan. Penulis novel Lampuki tersebut menegaskan bahwa bekal utama untuk menulis adalah membaca. Ia juga menyampaikan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menulis cerita pendek, yaitu konflik yang kuat, karakter yang kuat, dan bahasa yang baik.
Sutejo menambahkan, seorang penulis perlu belajar menjadi pribadi yang kuat, tidak takut terhadap hinaan, tidak mudah tersinggung, dan tidak lekas berbangga diri ketika menerima pujian. Ia juga turut memperkenalkan istilah “ghibah tarbiyah” sebagai gambaran obrolan yang diarahkan untuk belajar dari keberhasilan orang lain. Misalnya, membicarakan bagaimana seorang teman dapat memenangkan lomba, lalu menjadikannya motivasi untuk meng-upgrade kemampuan diri.
Menjelang akhir, kegiatan disambung dengan foto bersama, dan melantangkan jargon yang salah satunya berbunyi, “membaca itu indah, berpikir itu merajut dzikir, berkarya itu melukis pesona.” Kegiatan ditutup dengan pemberian buku Menulis Kreatif dari Sutejo sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap semangat membaca dan menulis bagi seluruh anggota HMP.
Lebih dari sekadar menyambut anggota baru, Welcome Party HMP 2026 menjadi ruang untuk saling mengenal, mempererat kekeluargaan, dan menumbuhkan semangat berkarya. Kegiatan ini menghadirkan pengingat bahwa perjalanan menjadi penulis dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni membaca, mengamati, dan menuangkan gagasan ke dalam tulisan.
Penulis: Agista Ryssa Ardynta




