Bukan Sekadar Angka, Festerastra 2026 Jadi Wadah Merdeka Ekspresi Pencinta Puisi Muda

PONOROGO — Sabtu, 13 Juni 2026 menjadi hari yang sangat berkesan bagi panitia tim penanggung jawab (PJ) lomba baca puisi. Gedung Graha Sarasvati yang biasanya tenang dan sepi, mendadak berubah menjadi panggung yang sangat meriah dan penuh suka cita. Hari ini merupakan puncak sekaligus babak final dari kompetisi lomba baca puisi dalam rangka Festival Literasi Bahasa dan Sastra Indonesia (Festerastra). Sebagai tim penanggung jawab (PJ) lomba baca puisi, Ahmad, Vindy, An Nisa, Icha, dan Maya, kami menyaksikan sendiri bagaimana magisnya kata-kata bisa menghidupkan suasana dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 11.30 siang hari.
Festival ini sengaja kami rancang bukan sekadar sebagai ajang kompetisi yang kaku, yang hanya berpusat pada angka, melainkan sebuah wadah hangat untuk menumbuhkan kembali rasa cinta para generasi muda terhadap kekayaan sastra Indonesia, terutama pada puisi. Kami ingin memberikan ruang berekspresi yang merdeka bagi para pencinta puisi, sekaligus membuktikan bahwa karya sastra bisa dinikmati dengan cara yang asyik dan tidak membosankan.
Cabang lomba baca puisi ini diikuti oleh 10 peserta yang berhasil lolos ke babak final. Mereka ini datang dengan membawa semangat yang membara untuk berkompetisi dengan peserta yang lain. Seluruh peserta lomba baca puisi ini tidak hanya diikuti oleh sekolah menengah atas yang ada di Ponorogo saja, melainkan dari daerah luar yang sangat jauh.
“Saya sangat bangga melihat antusiasme para peserta ini, mereka-mereka ini datang dengan penuh semangat dan percaya diri untuk menang, bahkan ada salah satu peserta yang datang pada hari sebelumnya, ini menandakan betapa antusiasnya mereka,” ujar Ahmad, salah satu tim penanggung jawab lomba baca puisi dalam wawancaranya.
Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB keadaan di dalam Graha Sarasvati sudah terasa hangat dan hidup. Kami bersama tim PJ sudah bersiap di tempat masing-masing untuk menjalankan tugasnya. Di meja depan, kami menyambut kedatangan 10 besar finalis terbaik yang berhasil lolos dari babak penyisihan. Di ruang tunggu, suasananya campur aduk. Ada perpaduan antara rasa tegang, gemetar, namun penuh semangat yang terpancar jelas dari wajah mereka.
“Perasaan saya sebelum maju tentunya sangat tegang dan deg-degan, karena kebetulan saya juga mendapat nomor undian pertama, jadi ya agak grogi sih. Tapi jauh-jauh hari saya sudah mempersiapkan diri jadi sekarang aku sudah siap,” ujar Ragil Muhammad Fattah, salah satu peserta lomba baca puisi dengan penuh semangat.
Tepat pukul 08.30 WIB, lampu panggung utama mulai menyala dan momen yang dinantikan pun tiba. Satu per satu peserta finalis naik ke atas panggung, membawa keindahan makna dalam untaian kata yang mereka bawakan. Di depan panggung, 3 juri siap menilai satu per satu peserta yang tampil untuk mencari letak kekurangannya.
“Jujur, kami bertiga merasa sangat sulit untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemenang. Karena mereka ini adalah peserta terbaik yang berhasil lolos maju ke babak final. Tapi yang namanya lomba pasti ada yang menang dan ada yang kalah, jadi kami mencari letak kekurangan yang ada pada para mereka-mereka ini,“ ujar Walidha Tanjung Files dalam sambutannya.

Kami yang berjaga di tepi panggung berulang kali dibuat merinding oleh penghayatan yang begitu dalam, vokal yang menggelegar, serta gestur tubuh yang sangat ciamik dari setiap peserta. Semua finalis benar-benar tampil all-out dan mengerahkan kemampuan terbaik mereka hingga menjelang tengah hari.
Ketika jam dinding menyentuh pukul 11.30 WIB, ketegangan di panggung mereda sejenak untuk memasuki waktu istirahat, sholat, dan makan. Namun, di saat para peserta merasa tenang dan bernapas lega, suasana di ruang juri justru semakin intens. Tiga juri hebat kami—Kak Walidha Tanjung Files, S.Sn., Ibu Lusi Novitasari, M.Pd., dan Kak Ihsanudin, S.Pd.—terlihat berdiskusi dengan sangat serius dan berdebat saling menentukan pilihannya. Mereka harus memeras otak dan menilai setiap detail penampilan demi menentukan siapa yang paling layak membawa pulang gelar juara 1 sampai juara harapan 3 dari 10 peserta yang sama-sama berbakat ini.
Pukul 15.00 WIB, tibalah waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh para peserta. Suasana yang tegang, deg-degan, dan mendebarkan kembali menyelimuti gedung Graha Sarasvati. Memasuki sesi akhir, Walidha Tanjung Files mewaliki para juri, naik ke atas panggung untuk memberikan evaluasi, kritik, serta saran yang membangun bagi perkembangan bakat para peserta ke depan. Setelah itu, momen puncak yang paling ditunggu pun tiba yaitu pengumuman pemenang.
Persaingan ketat di babak final akhirnya melahirkan enam pemenang, mulai dari Juara 1 sampai Juara Harapan 3. Walaupun kesepuluh finalis sesungguhnya merupakan peserta terbaik, kompetisi ini bukan penentu akhir dari bakat mereka. Sebaliknya, ajang ini menjadi langkah awal bagi mereka untuk melangkah menjadi pembaca puisi yang lebih luar biasa di masa depan.
“Adapun kejuaraan ini diperoleh oleh enam peserta yaitu:
- Juara 1: Nur Afgan Maulidin dengan total poin 1116 dari TMI AL-AMIEN PRENDUAN
- Juara 2: Zaurida Hesti Arumdani total poin 1103 dari MAN 2 PONOROGO
- Juara 3: Jenifa Aurel Sutejo dengan total poin 1091 dari SMAN 1 PONOROGO
- Juara Harapan 1: Ragil Muhammad Fattah dengan total poin 1064 dari SMAN 1 PULUNG
- Juara Harapan 2: Rokhim Yuono dengan total poin 1054 dari MA-AN-NAJIYAH
- Juara Harapan 3: Kharida Nadhief Frederic Aurelia dengan total poin 1039 dari SMAN 1 BADEGAN
Sorak-sorai, pelukan hangat, senyum sumringah, hingga air mata haru seketika pecah di dalam ruangan. Seluruh rangkaian festival sastra yang penuh talenta ini akhirnya ditutup dengan begitu manis dan berkesan tepat pada pukul 15.00 WIB, meninggalkan rasa bangga yang luar biasa di hati kami sebagai panitia.
Pewarta: Ahmad Shofi Ulloh




