Belajar Tanda Baca Geguritan dengan Praktik, Mahasiswi PPL 2 Bangun Antusiasme dan Minat Siswa

Ponorogo_ Pembelajaran Bahasa Jawa di SMK PGRI 1 Ponorogo berlangsung interaktif pada Selasa (18/8/2026). Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa STKIP PGRI Ponorogo yang sedang menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) 2, Leyla Putri Nurjanah, mengajak siswa kelas XI Akuntansi (AK) mengenal tanda baca serta mempraktikkan pembacaan geguritan (puisi Jawa) dengan intonasi dan pelafalan yang tepat.
Kegiatan yang berlangsung pada jam pelajaran pertama dan kedua tersebut diikuti oleh 32 siswa. Pada awal pembelajaran, Leyla memberikan pemahaman mengenai bentuk dan fungsi tanda baca dalam geguritan untuk menentukan intonasi saat dibacakan.
Materi diperkuat melalui demonstrasi pembacaan geguritan menggunakan rekaman audio karya Leyla. Para siswa menyimak audio tersebut sembari membaca teks ber-handout yang telah dilengkapi tanda baca khusus.
Setelah menyimak demonstrasi, siswa diajak mempraktikkan pembacaan geguritan secara bersama-sama. Kegiatan ini bertujuan melatih intonasi sekaligus mengasah pelafalan bahasa Jawa para siswa.
Pada awal praktik, beberapa siswa sempat terlihat canggung dan malu-malu. Suasana kelas bahkan diwarnai tawa ketika beberapa siswa mencoba membaca geguritan secara mandiri di hadapan teman sebangkunya.
Guna mengatasi hal tersebut, Leyla mengalihkan strategi dengan mengajak seluruh siswa membaca geguritan secara bersama-sama (kolosal). Pendekatan ini terbukti berhasil meningkatkan rasa percaya diri para siswa.
“Secara keseluruhan, para siswa mengikuti instruksi dengan baik. Namun, saat diminta praktik membaca geguritan secara individu, mereka masih sangat malu. Solusinya, saya ajak seluruh siswa membaca bersama-sama dengan tetap memperhatikan tanda baca,” ujar Leyla.
Ia menambahkan, pemahaman terhadap tanda baca sangat mendasar agar geguritan dapat disampaikan dengan intonasi dan penghayatan yang tepat.
Inovasi pembelajaran ini mendapat respons positif dari para peserta didik. Divizianka dan Reva, dua siswa kelas XI AK, mengaku baru pertama kali mengenal konsep tanda baca khusus dalam geguritan. Menurut mereka, praktik membaca bersama menjadi bagian paling menarik selama pembelajaran.
Keduanya juga mengaku mulai tertarik untuk mendalami sastra Jawa, khususnya keterampilan membaca geguritan.
Pembelajaran interaktif ini membuktikan bahwa pendekatan praktik dapat membantu siswa memahami materi sekaligus membangun keberanian mengapresiasi karya sastra Jawa. Siswa yang awalnya kurang akrab dengan geguritan mulai menunjukkan ketertarikan untuk belajar lebih jauh.
Di akhir sesi, Leyla menegaskan pentingnya intonasi dan pelafalan agar pesan dalam geguritan tersampaikan utuh kepada pendengar.
“Ketika geguritan hanya hadir dalam bentuk tulisan, pembacalah yang berperan menghidupkan teks tersebut melalui suara, intonasi, dan penghayatan,” pungkasnya.
Pewarta: Ni ‘Mahtussholikhah (PBJ 2023)
Previous




