Sarasvati Art Fest Vol. 5 Meriahkan Penutupan OSMA 2026 dengan Semangat “Culture Never Die”

Ponorogo — Rangkaian Orientasi Studi Mahasiswa (OSMA) STKIP PGRI Ponorogo tahun 2026 semakin semarak dengan digelarnya Sarasvati Art Fest (SAF) Vol. 5. Mengusung tema “Kalcer Colour Night”, kegiatan ini menjadi salah satu agenda puncak yang menghadirkan perpaduan seni, budaya, kreativitas, dan hiburan bagi mahasiswa.
Sarasvati Art Fest Vol. 5 dipimpin oleh Yusuf, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) angkatan 2024, selaku ketua panitia. Dalam sambutannya, Yusuf mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga eksistensi budaya dan seni melalui jargon yang lantang diserukannya, “Culture Never Die!”
Jargon tersebut menjadi semangat utama dalam pelaksanaan SAF Vol. 5. Bukan sekadar menjadi sebuah seruan, “Culture Never Die” membawa pesan bahwa budaya dan seni harus terus hidup, berkembang, serta diwariskan kepada generasi berikutnya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diberikan ruang untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus mengenal keberagaman seni dan budaya.
Setelah sambutan ketua panitia, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan agenda penyematan almamater kepada mahasiswa baru. Prosesi tersebut dilakukan oleh Wakil Ketua III STKIP PGRI Ponorogo, Heru Setiawan, M.Pd.
Penyematan almamater menjadi salah satu momen simbolis yang memiliki makna penting bagi mahasiswa baru. Almamater tidak hanya menjadi identitas sebagai bagian dari STKIP PGRI Ponorogo, tetapi juga menjadi simbol dimulainya perjalanan baru mahasiswa dalam menempuh pendidikan dan mengembangkan potensi di lingkungan kampus.
Dalam prosesi tersebut, penyematan almamater kepada perwakilan mahasiswa baru dilakukan kepada Firdaus, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) angkatan 2026, sebagai perwakilan mahasiswa putra, dan Arina, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) angkatan 2026, sebagai perwakilan mahasiswa putri.
Momen penyematan tersebut menjadi semakin bermakna karena menjadi simbol diterimanya mahasiswa baru sebagai bagian dari keluarga besar STKIP PGRI Ponorogo. Dengan dikenakannya almamater, mahasiswa diharapkan mampu membawa nama baik kampus serta berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan akademik maupun kemahasiswaan.

Pesan Ketua STKIP PGRI Ponorogo: Stop Bullying dan Kekerasan Seksual
Setelah prosesi penyematan almamater, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Ketua STKIP PGRI Ponorogo, Ahmad Nur Ismail, M.Pd.I. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan sejumlah pesan penting kepada seluruh mahasiswa, khususnya mahasiswa baru yang baru memulai perjalanan mereka di lingkungan perguruan tinggi.
Salah satu pesan yang ditekankan adalah pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan saling menghargai. Beliau mengajak seluruh mahasiswa untuk bersama-sama mengatakan stop bullying, stop pencabulan, dan stop kekerasan seksual.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa lingkungan pendidikan harus menjadi ruang yang memberikan rasa aman bagi seluruh civitas akademika. Setiap mahasiswa memiliki hak untuk belajar, berkembang, dan beraktivitas tanpa mendapatkan perlakuan yang merendahkan, intimidasi, maupun tindakan kekerasan.
Ajakan tersebut sekaligus menjadi pesan moral bagi mahasiswa baru agar sejak awal mampu membangun budaya pergaulan yang sehat, saling menghormati, dan menjaga batasan dalam berinteraksi dengan sesama.
Tidak hanya memberikan pesan kepada mahasiswa, Ahmad Nur Ismail juga secara resmi menutup seluruh rangkaian kegiatan OSMA STKIP PGRI Ponorogo tahun 2026. Penutupan dilakukan secara simbolis melalui pemukulan gong, yang menandai berakhirnya rangkaian orientasi sekaligus menjadi awal bagi mahasiswa baru untuk memasuki kehidupan perkuliahan secara lebih aktif.
Pensi Mahasiswa Baru, Tampilkan Kreativitas dan Keberanian
Usai rangkaian sambutan dan penutupan OSMA, kemeriahan kegiatan berlanjut melalui pentas seni (pensi) mahasiswa baru. Pensi menjadi salah satu bagian yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa baru untuk menunjukkan kreativitas, keberanian, serta kemampuan mereka di bidang seni dan pertunjukan.
Setelah melalui tahap seleksi, terdapat tiga penampilan yang berhasil lolos untuk tampil dalam pentas seni mahasiswa baru. Ketiga penampilan tersebut hadir dengan konsep yang berbeda dan berhasil memberikan warna tersendiri dalam rangkaian acara.
Penampilan pertama datang dari Kelompok 6 (Cakrawala) yang membawakan drama “Malin Kundang”. Kisah yang sudah dikenal luas tersebut dikemas oleh mahasiswa baru dalam sebuah pertunjukan yang mengangkat cerita tentang hubungan anak dan orang tua.
Pertunjukan kemudian dilanjutkan oleh Kelompok 3 (Satya) dengan menampilkan drama musikal “Puspita Nala”. Perpaduan antara drama dan musik membuat penampilan kelompok ini menjadi salah satu pertunjukan yang menarik perhatian penonton.
Tidak kalah menarik, penampilan terakhir hadir dalam bentuk solo singer dari Kelompok 7 (Wiratama). Salah seorang mahasiswa yang akrab dipanggil Onel, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa (PBJ), membawakan lagu “Negoro Angin” dari Denny Caknan.

Penampilan Onel mendapatkan respons meriah dari penonton. Dengan vokal yang kuat dan pembawaan yang penuh penghayatan, ia mampu membangun suasana emosional selama penampilan berlangsung. Suara penonton yang bersorak turut mengiringi penampilannya hingga pertunjukan berakhir.
Penampilan para mahasiswa baru tersebut menunjukkan bahwa kegiatan OSMA tidak hanya menjadi sarana pengenalan lingkungan kampus, tetapi juga menjadi ruang untuk menemukan dan menampilkan berbagai potensi yang dimiliki mahasiswa.
Keberanian untuk tampil di hadapan banyak orang juga menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa baru. Panggung tersebut memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar tampil percaya diri, bekerja sama dalam kelompok, sekaligus mengembangkan kreativitas melalui seni.
Sedulur Kajawi dan Sarada Ethnic Project Ramaikan SAF Vol. 5
Kemeriahan Sarasvati Art Fest Vol. 5 semakin terasa dengan hadirnya dua guest star yang mengisi acara, yaitu Sedulur Kajawi dan Sarada Ethnic Project.
Kehadiran kedua guest star tersebut menjadi salah satu daya tarik utama dalam acara SAF Vol. 5. Sajian musik dan seni yang mereka hadirkan memberikan pengalaman hiburan sekaligus memperkuat karakter acara yang mengangkat tema budaya.
Tema “Kalcer Colour Night” terasa semakin hidup melalui perpaduan antara penampilan mahasiswa dan pertunjukan dari guest star. Mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi bagian dari sebuah ruang apresiasi seni dan budaya.
Konsep tersebut sejalan dengan semangat yang disampaikan oleh ketua panitia melalui jargon “Culture Never Die”. Seni dan budaya tidak ditempatkan hanya sebagai sesuatu yang berasal dari masa lalu, tetapi menjadi sesuatu yang dapat terus dikembangkan dan dikemas secara kreatif sesuai dengan perkembangan zaman.
Bagi mahasiswa, kegiatan seperti SAF dapat menjadi ruang untuk menikmati sekaligus mengapresiasi karya seni. Di sisi lain, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mempertemukan berbagai latar belakang mahasiswa dalam satu ruang yang penuh kreativitas dan kebersamaan.

Kesan Panitia: SAF Membawa Pesan yang Mendalam
Salah satu panitia dari SEMA yang akrab disapa Fadillah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2024, turut memberikan tanggapannya mengenai pelaksanaan kegiatan.
“Menurut saya, rangkaian acara SAF Vol. 5 ini sangat memuaskan. Bukan hanya karena acaranya meriah, tetapi setiap rangkaian yang ditampilkan juga memiliki pesan yang cukup mendalam, terutama tentang bagaimana seni dan budaya tetap bisa menjadi bagian penting dalam kehidupan mahasiswa. Saya berharap kegiatan seperti ini bisa terus dipertahankan dan dikembangkan oleh kampus, sehingga ke depannya semakin banyak mahasiswa yang berani berkarya, berprestasi, dan ikut melestarikan budaya melalui kreativitas mereka.”
Menurut Fadillah, kegiatan seni dan budaya di lingkungan kampus memiliki peran penting dalam memberikan ruang kepada mahasiswa untuk berekspresi. Kegiatan tersebut juga dapat menjadi wadah untuk mempertemukan mahasiswa dari berbagai program studi melalui semangat kreativitas dan kebersamaan.
Harapan agar SAF dapat terus berkembang menjadi salah satu pesan yang muncul dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Dengan konsep yang semakin kreatif dan melibatkan lebih banyak mahasiswa, kegiatan seni dan budaya diharapkan mampu menjadi salah satu identitas kegiatan kemahasiswaan di STKIP PGRI Ponorogo.
Menutup OSMA dengan Warna, Seni, dan Kebersamaan
Pelaksanaan Sarasvati Art Fest Vol. 5 dengan tema “Kalcer Colour Night” menjadi penutup yang penuh warna dalam rangkaian OSMA STKIP PGRI Ponorogo tahun 2026.
Mulai dari penyematan almamater, pesan dari pimpinan kampus, pentas seni mahasiswa baru, hingga penampilan guest star, seluruh rangkaian menghadirkan pengalaman yang beragam bagi mahasiswa baru.
Jika pada awal rangkaian OSMA mahasiswa diperkenalkan dengan lingkungan kampus dan berbagai organisasi mahasiswa melalui Expo UKM, kemudian membangun kekompakan melalui kegiatan outbond, maka SAF Vol. 5 memberikan ruang bagi mereka untuk menikmati dan mengekspresikan seni serta kreativitas.
Rangkaian tersebut menjadi gambaran bahwa kehidupan mahasiswa di perguruan tinggi tidak hanya berkutat pada aktivitas akademik. Terdapat berbagai ruang yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan, membangun relasi, berkarya, dan menemukan potensi diri.
Semangat “Culture Never Die” yang digaungkan dalam SAF Vol. 5 pun menjadi pesan yang relevan untuk terus dibawa oleh mahasiswa. Budaya dan seni akan tetap hidup ketika generasi muda bersedia mengenal, mengapresiasi, dan mengembangkannya melalui cara-cara kreatif.
Dengan berakhirnya rangkaian OSMA 2026, mahasiswa baru STKIP PGRI Ponorogo kini memasuki babak baru sebagai bagian dari keluarga besar kampus. Berbagai pengalaman yang diperoleh selama kegiatan diharapkan menjadi bekal untuk menjalani kehidupan perkuliahan dengan semangat, kreativitas, keberanian, dan rasa kebersamaan.
OSMA 2026 pun ditutup bukan sekadar dengan berakhirnya sebuah rangkaian kegiatan, tetapi dengan sebuah awal baru bagi mahasiswa untuk belajar, berkarya, berorganisasi, dan tumbuh bersama di STKIP PGRI Ponorogo.
Pewarta: Amran Abdul Fattah
Previous




