Peringatan Maulid Nabi: Meneladani Resiliensi Rasulullah sebagai bekal untuk masa depan

Jumat pagi (4/9) ketika semburat keemasan mentari mulai menghangat, siswa-siswi SMK PGRI 2 Ponorogo sudah memenuhi lapangan upacara.
Dewan Keagamaan di bantu anak-anak Rohis menyelenggarakan acara “Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW” dengan tema “Meneladani Rasulullah dengan menjadi Generasi yang Beradab”. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh elemen warga sekolah meliputi seluruh siswa, guru, staf dan karyawan SMK PGRI 2 Ponorogo.
Acara dibuka dengan melantunkan ummul Quran, Al-Fatihah yang dipandu oleh MC, Hesti Dwijayanti, guru pengampu mata pelajaran sejarah. Dilanjutkan sambutan oleh Agus Salim, kepala sekolah STERIDA yang baru dilantik 20 Agustus lalu. Pihaknya menyampaikan banyak terima kasih kepada panitia penyelenggara yang telah mempersiapkan acara ini dengan baik.
“Saya lihat kemarin itu panitia sudah mempersiapkan jajan yang terpasang di atas anak-anak itu, ucapnya sambil menunjuk aneka jajanan yang tergantung di tali rafia, di atas area duduk jamaah.
Lelaki berambut klimis itu juga berpesan kepada seluruh jamaah untuk memperhatikan ucapan pemateri.
“Resapi apa yang disampaikan pak ustadz” pungkasnya.
Diiringi oleh grup Hadroh Al-Firdaus, pembicara dalam acara ini adalah Kharisul Wathoni selaku Dosen sekaligus Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Pihaknya menyampaikan pentingnya meneladani Nabi Muhammad SAW.
“Nabi Muhammad adalah orang pertama dalam buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History karya Michael H. Hart. Alasannya adalah Nabi Muhammad SAW mampu memadukan dunia dan akhirat, kata Hart ketika diwawancarai.”
Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin, presiden, teknokrat, diplomat juga politikus. Selain itu, Nabi Muhammad juga mampu menegakkan ukhrawiyah, spiritual, dan dekat dengan Tuhan-Nya.
Pihaknya mengibaratkan STERIDA dalam hal ini mencontoh keteladanan nabi tersebut. STERIDA sudah mendapatkan berbagai macam penghargaan di bidang kompetensi akademik dan non akademik. Selain itu juga menjadi sekolah kejuruan yang berbasis pondok pesantren.
Lelaki berambut keperakan itu berpesan bahwa inti dari mauidhoh hasanah kali ini adalah bersyukur dengan memperbanyak dzikir.
“Seumpama tidak ada Rasulullah, maka dunia ini akan jahiliyah, gelap gulita.”
Hal lain yang bisa diteladani dari Nabi Muhammad adalah kemampuan resiliensi. Pemimpin umat Islam mempunyai kemampuan untuk bertahan, pantang menyerah menghadapi tekanan di zamannya.
Dengan kemampuan tersebut, siswa-siswi diharapkan untuk dapat beradaptasi di lingkungan kerja dan tetap kuat saat menghadapi tekanan, masa sulit atau kegagalan di masa mendatang. Khusnul Huda selaku penanggung jawab kegiatan menyampaikan tujuan diadakannya acara ini adalah untuk meneladani ajaran-ajaran Rasulullah.
“Tujuannya untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad SAW, agar kita bisa mengagumi, meneladani, dan menjalankan ajaran-ajaran beliau.”
Lelaki berbadan tegap itu berharap, siswa-siswi giat dalam meneladani, terutama dalam hal akhlak Rasulullah. Supaya bisa beruntung di dunia maupun di akhirat, karena mempunyai akhlak yang baik dan ilmu teknik yang mumpuni.
Syafiq Alfiansyah, salah satu jamaah merasa acara ini sangat meriah.
“Kesan saya luar biasa, bahkan sangat meriah. Setahu saya lebih meriah dari tahun sebelumnya.”
Setelah mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, banyak pesan yang didapatnya tentang perjuangan Rasulullah. Mulai dari kepribadian, sifat, dan tingkah laku Sang Pemimpin Umat kepada seluruh pengikutnya. Siswa kelas 12 TKR 4 itu berharap, semoga acara maulid tahun depan bisa lebih meriah lagi dan bisa lebih kompak dari hari ini.
Pewarta: Mualif Hida, Mahasiswa PBSI STKIP PGRI Ponorogo
Previous




