Belajar Bahasa Inggris Sambil Berburu Misi, Mahasiswa PPL 2 STKIP PGRI Ponorogo Integrasikan Digital Guardian di MAN 1 Ponorogo

Ponorogo — Pembelajaran Bahasa Inggris di kelas XI-H Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Ponorogo berlangsung interaktif melalui penerapan metode gamifikasi berbasis misi bertajuk “Digital Guardian”, Kamis (20/8/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) 2 mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo di MAN 1 Ponorogo. Dalam kegiatan ini, Basitha Nashiri, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris yang akrab disapa Miss Basitha oleh siswa, melaksanakan latihan mengajar dengan mengemas materi Bahasa Inggris melalui serangkaian misi yang menantang dan kolaboratif.
Kegiatan pembelajaran mengangkat materi Bab 1, “Digital Literacies and My Identity”, dengan subbab Writing a Social Media Post. Melalui konsep Digital Guardian, siswa tidak hanya diarahkan untuk memahami materi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, kerja sama, dan apresiasi terhadap sesama. Siswa dibagi ke dalam kelompok yang terdiri atas tiga hingga empat orang dan berperan sebagai tim yang harus menyelesaikan misi secara bertahap.
Misi dimulai dengan Level 1: Menganalisis Kasus, setiap kelompok memperoleh Kartu Kasus Toxic. Siswa berdiskusi mengidentifikasi contoh komentar atau ujaran negatif di media sosial. Masuk pada Level 2: Berburu Kunci ke Agent dengan mencari Agent di sekitar lingkungan kelas. Siswa harus berinteraksi menggunakan bahasa Inggris secara santun untuk memperoleh kunci berupa kalimat perbaikan yang dapat digunakan sebagai alternatif dari ujaran negatif yang telah dianalisis.
Setelah mendapatkan kunci, lanjut Level 3: Merancang Postingan Positif. Siswa menyusun social media post dalam bentuk headline, message, serta hashtag atau call to action. Rangkaian misi kemudian dilengkapi dengan kegiatan peer review yaitu membaca karya kelompok lain dan memberikan komentar atau apresiasi. Di penghujung rangkaian misi siswa memperoleh stempel dan paraf tanda keberhasilan dan dinobatkan sebagai “Digital Guardian”.
Melalui repairing statements, siswa diajak mengubah ujaran negatif menjadi ungkapan yang lebih santun, konstruktif, dan positif. Sementara melalui peer review, siswa belajar menghargai karya teman, memberikan apresiasi, dan membangun interaksi yang suportif. Nilai tersebut selaras dengan materi Digital Literacies and My Identity, yang berfokus memahami pentingnya membangun identitas yang positif dan bertanggung jawab ketika berkomunikasi di ruang digital.
Penerapan gamifikasi membuat suasana kelas menjadi lebih dinamis. Siswa terlihat aktif berdiskusi, bekerja sama, antusias mencari Agent, serta bersemangat menyelesaikan setiap tahapan misi. Aktivitas pembelajaran yang dikemas seperti permainan membuat siswa memperoleh pengalaman belajar langsung yang tetap berorientasi pada tujuan pembelajaran.
“Menurut kami, metode gamifikasi mission-based learning sangat seru dan nggak bikin bosan, Miss. Kita belajar sambil menyelesaikan misi membuat kita lebih aktif dan tetantang untuk menyelesaikan setiap tugasnya, jadi rasanya seperti bermain tapi tetap mendapat materi Bahasa Inggris yang lengkap”, uangkap Filia Raudhatul Aqilah, siswa kelas XI-H.
Pembelajaran Digital Guardian menjadi salah satu bentuk upaya menghadirkan pembelajaran Bahasa Inggris yang aktif, komunikatif, kolaboratif, dan menyenangkan, sekaligus menanamkan nilai empati, kesantunan, kerja sama, serta penghargaan terhadap sesama. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar menggunakan Bahasa Inggris, tetapi juga belajar menggunakan bahasa secara positif dan bertanggung jawab, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di ruang digital.
Previous




